RSS

FITRAH DAN POTENSI MANUSIA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

13 Jul

FITRAH DAN POTENSI MANUSIA DALAM

PENDIDIKAN ISLAM

Moment  yang terjadi di seputar dunia pendidikan sepertinya tidak akan pernah usai, sepanjang manusia tetap berpendidikan. Hal ini berarti bahwa pendidikan adalah satu-satunya sarana atau media atau fasilitas yang dimiliki manusia yang berguna untuk membentuk pribadinya menjadi lebih baik lagi. Pernyataan ini selaras dengan Arifin, yang mengatakan bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai latihan mental, moral dan fisik yang bisa menghasilkan manusia berbudaya tinggi dengan personalitas dan tanggungjawabnya. Secara filosofis manusia terdri atas rohani dan jasmani dimana jasmani merupakan bentuk fisik dari manusia itu sedangkan rohani merupakan jiwa manusia yang merupakan prinsip hidup manusia.  prinsip hidup itulah yang menjadi pendukung dan pendorong semua tindakan pun tindakan berfikir dan berkehendak. Setiap manusia mempunyai potensi. Perkembangan dari potensi manusia adalah spritual, emosional, intelektual, social, dan individual. Dalam pendidikan Islam hidayah Allah menjadi sumber spiritual yang menjadi penentu keberhasilan akhir dari proses ikhtiyariah manusia dalam pendidikan.

Pendidikan dikatakakan sebagai sarana yang membentuk manusia menjadi baik. Secara filosofis pengertian manusia menjadi baik ialah baik secara kepribadian yang ditampilkan dalam tingkah lakunya. Tindakan yang ditampilkan dalam bentuk perbuatan seutuhnya merupakan ekspresi mental dalam diri manusia. Dengan demikian maka yang disebutkan bahwa pendidikan merupakan sarana yang diperuntukan untuk membentuk manusia menjadi baik dalah manusia yang baik secara mental dimana mental merupakan kondisi kejiwaan manusia.

Menurut Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau pmpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[[1]] Dalam defenisi ini terlihat jelas bahwa secara umum yang dituju oleh kegiatan pendidikan adalah terbentuknya kepribadian yang utama. Defenisi ini Nampak sejalan dengan prinsip tersebut menyatakan bahwa tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah gambaran manusia yang ideal yang harus dicapai melalui kegiatan pendidikan. Bedanya adalah:

1)      Ahmad D. Marimba menggambarkan manusia ideal adalah manusia yang berkribadian utama.

2)       Mohammad’Athiyah al-Abrasy menggambarkan manusia ideal adalah yang berakhlak mulia.

3)      Hasan Langgulung dan M. Natsir menggambarkan manusia ideal adalah manusia yang melaksanakan tujuan hidupnya, yaitu menghambakan diri kepada Allah SWT untuk memperoleh kekuatan, keuntungan, dan kebahagiaan hidup.

Menurut Mohammad’Athiyah al-Abrasy, pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari Pendidikan Islam, pendidikan  dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam. Mencapai suatu akhlak yang sempurna adalah tujuan sebenarnya dari Pendidikan Islam. Pada defenisi ini Nampak bahwa gambaran manusia yang ideal yang harus dicapai melalui kegiatan pendidikan adalah manusia yang semperna akhlaknya. Hal ini Nampak sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

POTENSI YANG DIMILIKI MANUSIA

Dalam berbagai literature, khususnya dibidang filsafat dan antropologi dijumpai berbagai pandangan para ahli tentang hakekat manusia. Sastraprateja, misalnya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang historis.[[2]]. Hakikat manusia itu sendiri adalah suatu sejarah, suatu peristiwa yang semata-mata datum. Hakikat manusia hanya dilihat dalam perjalanan sejarahnya, dalam sejarah perjalanan bangsa manusia. Saatraprateja lebih lanjut mengatakan, bahwa apa yang kita peroleh dari pengamatan kita atas pengamatan manusia adalah suatu rangkaian anthtropoligical constans, yaitu dorongan-dorongan dan orientasi yang dimiliki manusia.

Lebih lanjut, Sastraprateja menambahkan ada sekurang-kurangnya 6 anthtropoligical constans yang dapat di tarik dari pengalaman umat manusia, yaitu:

1.      Relasi manusia dengan kejasmanian, alam, dan lingkungan ekologis

2.      Keterlibatan dengan sesame

3.      Keterkaitan dengan srtuktur sosial dan institional

4.      Ketergantungan masyarakat dan kebudayaan pada waktu dan tempat, hubungan timbal balik antara teori dan praktis.

5.      Kesadaran religious dan para religious

6.      Merupakan satu sintesis dan masing-masing saling mempengaruhi.

Keenam masalah tersebut Nampak merupakan rangkaian kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia, yang secara umum dapat dikatakan bahwa dalam beresksistensinya manusia tidak bisa melepaskan dari ketergantungannya pada orang lain.

Dr. Alexis Carrel (seorang  peletak dasar-dasar humaniora di Barat ) mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang misterius, karena derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan perhatiannya  yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada luar dirinya.[[3]]. Pendapat ini menunjukkan tentang betapa sulitnya memahami manusia secara tuntas dan menyeluruh. Sehingga setiap kali seseorang selesai memahami dari satu aspek tentang manusia, maka muncul pula aspek yang lainnya.

Manusia memiliki kemampuan yang tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya, baik perubahan social maupun perubahan alamiah. Manusia menghargai tata aturan etik, sopan santun, dan berbagai makhluk yang berbudaya. Manusia tidak liar, baik secara social maupun alamiah.

Manusia yang baru lahir dari perut ibunya masih sangat lemah, tidak berdaya dan tidak mengetahui apa-apa. Untuk menjadi hamba Allah yang selalu menyembah-Nya dengan tulus dan menjadi khalifah-Nya dimuka bumi, anak tersebut membutuhkan perawatan, bimbingan dan pengembangan segenap potensinya kepada tujuan yang benar. Ia harus dikembangkan segala potensinya kearah yang positif melalui suatu upaya yang disebut sebagai al-Tarbiyah, al-Ta’dib, al-Ta’lim atau yang kita kenal dengan “pendidikan”.

Karena pendidikan yang mengarahkan ke arah perkembangan yang optimal maka pendidikan dalam mengembangkannya harus memperhatikan aspek-aspek kepentingan yang antara lain :

  1. Aspek Pedagogis

Dalam hal ini manusia dipandang sebagai makhluk yang disebut ‘Homo Educondum’ yaitu makhluk yang harus didik. Inilah yang membedakannya dengan makhluk yang lain. Jadi disini pendidikan berfungsi memanusiakan manusia tanpa pendidikan sama sekali, manusia tidak dapat menjadi manusia yang sebenarnya.

  1.  Aspek Psikologis

Aspek ini memandang manusia sebagai makhluk yang disebut ‘Psychophyisk Netral’ yaitu makhluk yang memiliki kemandirian (selftandingness) jasmaniahnya dan rohaniah. Didalam kemandirian itu manusia mempunyai potensi dasar yang merupakan benih yang dapat tumbuh dan berkembang.

  1.  Aspek Sosiologis Dan Kultural

Aspek ini memandang bahwa manusia adalah makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar untuk hidup bermasyarakat.

  1. Aspek Filosofis

Aspek ini manusia adalah makhluk yang disebut ‘Homo Sapiens’ yaitu makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan.

Manusia sebagai makhluk paedagogik membawa potensi dapat dididik dan dapat mendidik. Sehingga dengan potensi tersebut mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan. Ia dilengkapi dengan fitrah Allah berupa keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk yang mulia.

Fitrah manusia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik melalui pendidikan. Oleh karena itu pendidikan Islam bertugas membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan fitrah manusia tersebut sehingga terbentuk seorang yang berkepribadian muslim. Potensi dasar tersebut atau lebih dikenal dengan istilah fitrah harus terpelihara dan berkembang dengan baik. Sebab tugas pendidikan adalah menjadikan potensi dasar itu lebih berdaya guna, berfungsi secara wajar dan manusiawi.

Dalam pandangan lain, Pendidikan merupakan upaya manusia yang diarahkan kepada manusia lain dengan harapan mereka, ini berkat pendidikan (pengajaran) itu kelak menjadi manusia yang shaleh, yang berbuat sebagai mana yang seharusnya diperbuat dan menjauhi apa yang tidak patut dilakukannya.

HUBUNGAN FITRAH DENGAN PENDIDIKAN

Sebelum kita melihat hubungan fitrah dengan pendidikan maka dilihat dulu dari segi pengertian.

  1. Fitrah adalah : kemampuan dasar yang ada pada diri seseorang yang harus dikembangkan secara optimal.
  2. Pendidikan adalah : usaha sadar orang dewasa untuk mengembangkan kemampuan hidup secara optimal, baik secara pribadi maupun sebagai anggota masyarakat serta memiliki nilai-nilai religius dan sosial sebagai pengarah hidupnya.

Dapat disimpulkan bahwa hubungan fitrah dengan pendidikan adalah potensi yang ada atau kemampuan jasmani dan rohaniah yang dapat dikembangkan tersebut. Pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai dimana tiitk optimal kemampuan-kemampuan tersebut untuk mencapainya.  Keutuhan terhadap pendidikan bukan sekedar untuk mengembangkan aspek-aspek individualisasi dan sosialisasi, melainkan juga mengarahkan perkembangan kemampuan dasar tersebut kepada pola hidup yang ukhawi. Oleh karena itu diperlukan atau keharusan pendidikan.

Potensi fitrah yang diberikan Allah itu, menurut Abdullah Nashih Ulwan sebagi “fitrah tauhid” aqidah iman kepada Allah dan atas dasar kesucian yang tidak ternoda.  Menurut H.M. Arifin, fitrah adalah suatu kemampuan dasar manusia yang dianugerahkan Allah kepadanya, yang di dalamnya terkandung berbagai komponen psikologis yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menyempurnakan bagi hidup manusia.

Seiring dengan lajutnya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, peranan pendidikan akan menjadi semakin penting. Karena di samping kemajuan ilmu pengetahuan yang menuntut sumber daya manusia yang berkualitas (khalifah Allah dibumi). Juga pendidikan berperan sebagai pengarah dari lajunya perkembangan pengetahuan itu sendiri, sehingga hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak akan merusak nilai manusia itu sendiri.

Al-Quran sebagai tumpuan dasar hidup dan kehidupan manusia dan sekaligus sumber ajaran Islam memuat begitu banyak segi kehidupan. Begitu banyak yang tercakup dalam ayat-ayatnya, baik yang tersirat maupun yang tersurat, dari prihidup kemanusiaan sampai menerobos keberbagai bidang ilmu pengetahuan.

Salah satu yang terpenting dalam ajaran Islam adalah pendidikan, yang merupakan faktor fundamental dalam kehidupan manusia, telah menjadi salah satu bidang yang tercakup dalam kandungan ayat-ayat suci al-Quran dan bahkan menjadi topik yang utama. Sebab Rasulullah sendiri diutus oleh Allah untuk mengajarkan dan mendidik manusia untuk dapat mengenal Allah dan Rasulnya. Sebagaimana Fazlur Rahman pernah menyatakan dalam bukunya, Al-Quran mengajarkan bahwa kemajuan beragama terjadi melalui proses belajar dan amat menekankan pada pentingnya proses belajar.

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang dibekali dengan berbagai potensi atau fitrah yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Potensi istimewa ini dimaksudkan agar mengemban dua tugas utama, yaitu sebagai khalifah di muka bumi dan juga untuk beribadah kepada Allah SWT. Manusia dengan berbagai potensi tersebut membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa yang akan  diembannya dapat terwujud. Pendidikan islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkrebadian muslim baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan segala amal perbuatannya untuk mencari keriddhaan Allah SWT. Pendidikan Islam harus menggunakan al-Quran sebagai sumber utama dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus berlandaskan ayat-ayat al-Quran yang penafsirannya dapat dilakukan berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perubahan dan pembaharuan.

Dengan demikian, hakikat cita-cita Pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan, satu sama lain saling menunjang. Fitrah adalah potensi diri manusia untuk lebih baik. Itulah sebabnya potensi untuk menjadi lebih baik pada diri kita senantiasa dodorong dan dibangkitkan. Banyak sekali orang selalu optimis, sehingga berbagai masalah dan rintangan mampu dihadapi dengan gembira yang akhirnya mampu membuat orang-orang disekitarnya termotivasi untuk meningkatkan kualitas hidup. Fitrah erat kaitannya dengan citra manusia yang merupakan gambaran tentang diri manusia yang berhubungan dengan kualitas-kualitas asli manusiawi. Kualitas tersebut merupakan sunnah Allah yang ada pada manusia sejak ia dilahirkan.

Kondisi citra  manusia secara potensial tidak dapat dirubah, sebab jika berubah maka eksistensi manusia menjadi hilang, namun secara actual citra tersebut dapat berubah sesuai dengan kehendak dan pilihan manusia itu sendiri. Sebelum kita mengetahui fitrah dan potensi manusia dalam pendidikan Islam. Kita lihat dulu pengetian dari Pendidikan Islam itu sendiri apa?. Pendidikan Islam menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-touny al-Syaebani, diartikan sebagai ”usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan”.[4] Dan dari hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, Pendidikan Islam yaitu: sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam”.

Adapun Pendidikan Islam menurut Dr. Muhammad Fadil Al-Djamaly, Pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampua ajarannya (pengaruh dari luar).[[5]]. Dan Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya yang dilakukan seorang dewasa kepada anak didiknya untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik dan memiliki kepribadian muslim yang mengimplemantasikan syari’at Islam dalam kehidupan sehari, serta hidup bahagia didunia dan akhirat.

Dari beberapa defenisi tersebut, Pendidikan Islam, yakni pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan didalam diri manusia, tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat tuhan yang tepat didalam tatanan wujud dan kepribadian.

Dilihat dari penjelasan diatas, maka diperlukan pendidikan islam yang harus didasarkan pada konsep dasar manusia yang berhubungan dengan kualitas-kulitas atau potensi manusia, potensi yang memerlukan proses pembinaan yang mengacu ke arah yang realisasi dan pengembangan individu yang berwawasan kepada Islam. Dalam hal ini dengan berpandu kepada Al-quran dan Hadist sebagai sumbernya, sehingga akhir dari tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dan menciptakan insane Kamil bahagia di dunia dan akhirat. Ada pun tujuan yang tertinggi dapat dirumuskan dalam istilah “insane kamil” (manusia paripurna).[[6] ]Dalam tujuan pendidikan islam tujuan tertinggi atau terakhir ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia, dan peranannya sebagai mahkluk ciptaan Allah.

Dengan demikian indikator dari insane kamil tersebut adalah: menjadi hamba Allah, mengantarkan subjek didik menjadi khalifah Allah fi al-Ardh,yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan penciptaannya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup, dan untuk memperoleh kesejahteraan kebahagiaan hidup didunia sampai akhira, baik individu maupun masyarakat.

Allah SWT menciptakan manusia didunia kecuali bertugas pokok untuk menyembah Khalik-Nya, juga bertugas untuk mengelola dan memanfaatkan kekayaan yang terdapat di bumi agar mereka dapat hidup sejahtera dan makmur lahir batin. Manusia diciptakan Allah selain menjadi Hamba-Nya, juga menjadi penguasa (khalifah) di atas bumi. Selaku hamba dan “khalifah”, manusia telah diberi kelengkapan kemampuan jasmaniah(fisiologis) dan rohaniah (mental psikologis) yang dapat dikembangkan. Begitu kompleks fitrah manusia, sehingga manusia pantas menerima amanah Tuhan untuk menjadi khalifah dan hamba-Nya. Manusia diciptakan Allah dalam struktur yang paling baik dan ditumbuhkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam ikhtiar kemanusiaannya untuk melaksanakan tugas pokok kehidupannya didunia. baik diantara makhluk Allah yang lain.

Struktur manusia terdiri dari unsure jasmaniah dan rohaniah atau unsur psiologis. Untuk mengembangkan atau menumbuhkan kemampuan dasar jasmaniah dan rohaniah tersebut, pendidikan merupakan sarana (alat) yang menentukan sampai dimana titik optimal kemampuan tersebut dapat dicapai. Namun, proses pengembangan kemampuan manusia melalui pendidikan tidaklah menjamin akan terbentuknya watak dan bakat seseorang untuk menjadi baik menjadi baik menurut kehendak-Nya, mengingat Allah sendiri telah menggariskan bahwa di dalam diri manusia terdapat kecenderungan dua arah, yaitu arah perbuatan fasik (menyimpang dari peraturan) dan ke arah ketakwaan (menaati peraturan/perintah)[[7]]. Seperti firman Allah dalam surat As Syams 7-10. Dalam firman Allah tersebut menjelaskan bahwa, manusia di beri kemungkinan untuk mendidik diri dan orang lain menjadi sosok pribadi yang beruntung sesuai kehendak Allah melalui berbagai metode ikhtairiah-Nya. Di sini tercermin bahwa manusia memiliki kemamuan bebas (free will) untuk menentukan dirinya melalui upayanya sendiri. Ia tak akan mendapatkan  sesuatu kecuali menurut usahnya.

Dapat dilihat dalam firman Allah yakni dalam surat An Najm, 39 dan 40. Disini menjelaskan konsepsi Islam tentang hubungan Tuhan dan Manusia sebagai makhluk-Nya yang mengandung nilai kasih sayang bersifat pendagogis (mendidik), yaitu tanpa ikhtiar, manusia tidak akan memperoleh kasih sayamg Tuhan atau keberuntungan atau keberhasilan. Dengan kata lain, rahmat dan hidayah serta taufik-Nya tidak akan diperoleh manusia tanpa melalui ikhtiar yang benar dan sungguh di jalan Allah. Bilamana tujuan pendidikan Islam diarahkan kepada pembentukan manusia yang seutuhnya, berarti proses kependidikan yang harus dikelola oleh para pendidik harus berjalan di atas pola dasar  manusia dari fitrah yang telah dibentuk Allah dalam setiap pribadi manusia.[[8]].

Pola dasar ini mengandung potensi psikologis yang kompleks, karena di dalamnya terdapat aspek-aspek kemampuan dasar yang dapat dikembangkan secara dialektis-interaksional (saling mengacu dan mempengaruhi) untuk terbentuknya kepribadian yang serba utuh dan sempurna melalui arahan kependidikan. Salah satu  aspek potensial dari apa yang disebut  “fitrah” adalah kemampuan berfikir manusia dimana rasio atau intelegensia (kecerdasan) menjadi pusat perkembangannya. Para pendidik muslim sejak dahulu menganggap bahwa kemampuan berpikir inilah yang menjadi kriterium (pembeda) yang esensial antara manusia dan mahkluk-makhluk lainnya. Disamping itu, kemampuan ini memiliki kapabilitas untuk berkembang seoptimal mungkin yang banyak bergantung pada daya guna proses kependidikan.

Dalam unsur ini Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki kecenderungan berkarya yang disebut potensialitas yang menurut pandangan Islam dinamakan “Fitrah”. Kata fitrah diambil dari kata fathara yang berarti mencipta. Sementara pakar menambahkan, fitrah adalah mencipta sesuatu pertama kali/tanpa ada contoh sebelumnya. Kata fitrah berasal dari kata (fi’il) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah berarti kejadian asli,agama, ciptaan, sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian. Menurut ibn al-Qayyim dan ibn al-Katsir, karena fatir artinya menciptakan, maka fitrah artinya keadaan yang dihasilkan dari penciptaannya itu.

Menurut hadist yang diriwayatkan oleh ibnu Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah tidak pernah dikemukakan oleh al-Qur’an dalam konteksnya selain dengan manusia. Dalam kamus susunan Mahmud Yunus, fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli. Dalam kamus Munjid kata fitrah diartikan dengan agama, sunnah, kejadian, tabiat. Menurut Syahminan Zain (1986 : 5), bahwa fitrah adalah potensi laten atau kekuatan yang terpendam yang ada dalam diri manusia, yang dibawanya sejak lahir.

Pengertian secara etimologi tersebut masih bersifat umum, untuk mengkhususkan arti fitrah, hendaklah perhatikan firman Allah SWT dalam Q.S Ar-Rum  30:
Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya), itulah fitrah Allah. Yang Allah menciptakan manusia diatas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya

Adapun sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim adalah :
Tiap-tiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hanya bapak ibulah yang menjadikan Yahudi, Nasrani dan Majusi”.(H.R. Muslim)

Bila di interpretasikan lebih lanjut dari istilah “Fitrah” sebagaimana tersebut dalam ayat al-Qur’an dan Hadist, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

  1. Fitrah yang disebutkan dalam ayat tersebut mengandung implikasi pendidikan.Oleh karena itu, kata fitrah mengandung makna “kejadian” yang didalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus yaitu islam. Potensi dasar ini tidak dapat diubah oleh siapa pun. Karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia.
  2. 2.Fitrah berarti agama, kejadian. Maksudnya adalah agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia. Karena manusia diciptakan untuk melaksanakan agama (beribadah). Hal in dikuatkan oleh firman Allah dalam surat adz-Dzariyat(51):56[9][6]
  3. Fitrah Allah berarti ciptaan Allah, Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama Tauhid; maka hal itu tidak wajar kalau manusia tidak beragama tauhid. Mereka tidak beragama tauhid itu hanya lantaran pengaruh lingkungan. Tegasnya manusia menurut fitrah beragama tauhid.
  4. Fitrah berarti ciptaan, kodrat jiwa, budi nurani. Maksudnya bahwa rasa keagamaan, rasa pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa itu adalah serasi dengan budi nurani manusia. Adapun manusia yang bertuhankan kepada yang lain-lain adalah menyalahi kodrat kejiwaannya sendiri.
  5. Fitrah berarti ikhlas. Maksudnya manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satunya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Berkaitan dengan makna ini ada hadist yaitu: “ Tiga perkara yang menjadikannya selamat adalah ikhlas, berupa fitrah Allah, di mana manusia diciptakan darinya, sholat berupa agama, dan taat berupa benteng penjagaan” (HR. abu Hamid dari Muadz)
  6. Fitrah berarti potensi dasar manusia. Maksudnya potensi dasar manusia ini sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah.Para filosof yang beraliran empirisme memandang aktivitas fitrah sebagai tolok ukur pemaknaannya.

Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung, Fitrah itu dapat dilihat dari dua segi yakni; segi naluri sifat pembawaan manusia atau sifat-sifat Tuhan yang menjadi potensi manusia sejak lahir, dan segi wahyu Tuhan yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya. Jadi potensi manusia dan agama wahyu itu merupakan satu hal yang nampak dalam dua sisi, ibarat mata uang logam yang mempunai dua sisi yang sama.Mata uang itulah kita ibaratkan fitrah. Kemampuan menerima sifat-sifat Tuhan dan mengembangkan sifat-sifat tersebut adalah merupakan potensi dasar manusia yang terbawa sejak lahir.

Ada pun macam-macam fitrah (potensi) dapat kita lihat sbb:

  1. Potensi Fisik (Psychomotoric).

Merupakan potensi fisik manusia yang dapat diberdayakan sesuai fungsinya untuk berbagai kepentingan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup.

  1. Potensi Mental Intelektual (IQ).

Merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya : untuk merencanakan sesuatu untuk menghitung, dan menganalisis, serta memahami sesuatu tersebut.

  1. Potensi Mental Spritual Question (SP).

Merupakan potensi kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri manusia yang berhubungan dengan jiwa dan keimanan dan akhlak manusia.

  1. Potensi Sosial Emosional.

Yaitu merupakan potensi yang ada pada otak manusia fungsinya mengendalikan amarah, serta bertanggung jawab terhadap sesuatu.

Kemampuan dasar untuk beragama secara umum, tidak hanya terbatas dalam agama Islam. Dengan kemampuan ini manusia dapat dididik menjadi beragama Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi, namun tidak dapat dididik menjadi atheis (anti Tuhan). Pendapat ini diikuti oleh banyak ulama Islam yang berfaham ahli Mu’tazilah antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun.  Aspek-aspek psikologis dalam fitrah adalah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsive terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.

Aspek-aspek tersebut adalah:

  1. Bakat, suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan akademis dan keahlian dalam bidang kehidupan. Bakat ini berpangkal pada kemampuan Kognisi (daya cipta), Konasi (Kehendak) dan Emosi (rasa) yang disebut dalam psikologi filosifis dengan tiga kekuatan rohaniah manusia.
  2.  Insting atau gharizah adalah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar. Kemampuan insting ini merupakan pembawaan sejak lahir. Dalam psikologi pendidikan kemampuan ini termasuk kapabilitas yaitu kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa belajar.
  3. Nafsu dan dorongan-dorongan. Dalam tasawuf dikenal nafsu-nafsu lawwamah yang mendorong kearah perbuatan mencela dan merendahkan orang lain. Nafsu ammarah yang mendorong kea rah perbuatan merusak, membunuh atau memusuhi orang lain. Nafsu berahi (eros) yang mendorong ke arah perbuatan seksual untuk memuaskan tuntutan akan pemuasan hidup berkelamin. Nafsu mutmainnah yang mendorong ke arah ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut al-Ghazali, nafsu manusia terdiri dari nafsu malakiah yang cenderung ke arah perbuatan mulia sebagai halnya para malaikat, dan nafsu bahimiah yang mendorong ke arah perbuatan rendah sebagaimana binatang.
  4. Karakter adalah merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak lahir. Karakter ini berkaitan dengan tingkah laku moral dan sosial serta etis seseorang. Karakter terbentuk oleh kekuatan dari dalam diri manusia, bukan terbentuk dari pengaruh luar
  5. Hereditas atau keturunan adalah merupakan factor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologis dan fisiologis yang diturunkan oleh orang tua baik dalam garis yang terdekat maupun yang telah jauh.
  6. Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham Tuhan. Intuisi menggerakkan hati nurani manusia yang membimbingnya ke arah perbuatan dalam situasi khusus diluar kesadaran akal pikiran, namun mengandung makna yang bersifat konstruktif bagi kehidupannya. Intuisi biasanya diberikan Tuhan kepada orang yang bersih jiwanya.[[10]]
  7. Implikasi Fitrah Manusia Terhadap Pendidikan

Alat-alat potensial dan berbagai potensial dasar atau fitrah manusia tersebut harus ditumbuhkembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayatnya. Manusia diberikan kebebasan untuk berikhtiar mengembangkan alat-alat potensial dan potensi-potensi dasar atau fitrah manusia tersebut. Namun demikian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya tidak dapat lepas dari adanya batas-batas tertentu, yaitu adanya hukum-hukum yang pasti dan tetap menguasai alam, hukum yang menguasai benda-benda maupun masyarakat manusia sendiri, yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung pada kemauan manusia. Hukum-hukum inilah yang disebut dengan taqdir (Keharusan universal)

Di samping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial dan fitrah manusia itu juga dipengaruh oleh faktor-faktor hereditas, lingkngan alam, lingkungan sosial, sejarah. Dalam ilmu-ilmu pendidikan ada 5 macam faktor-faktor yang menentukan keberhasilan pelaksanaan pendidikan, yaitu tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan, dan lingkungan. Karena itulah maka minat, bakat, kemampuan (skill), sikap manusia yang diwujudkan dalam kegiatan ikhtiarnya dan hasil yang dicapai dari kegiatan ikhtiarnya tersebut bermacam-macam.[[11]]

Fitrah berisi daya-daya yang wujud dan perkembangannya tergantung pada usaha manusia sendiri. Oleh karena itu fitrah harus dikembalikan dalam bentuk-bentuk keahlian, laksana emas atau minyak bumi yang terpendam di perut bumi, tidak ada gunanya kalau tidak digali dan diolah untuk manusia. Di sinilah letak tugas utama pendidikan. Sedangkan pendidikan sangat dipengaruhi oleh factor pembawaan dan lingkungan (nativisme dan empirisme). Namun ada perbedaan antara pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Pendidikan Islam berangkat dari filsafat pendidikan theocentric, sedangkan pendidikan umum berangkat dari filsafat anthropocentric.

Theocentric memandang bahwa semua yang ada diciptakan oleh Tuhan, berjalan menurut hukum-Nya. Filsafat ini memandang bahwa manusia dilahirkan sesuai dengan fitrah-Nya dan perkembangan selanjutnya tergantung pada lingkungan dan pendidikan yang diperoleh. Sedang seorang guru hanya bersifat membantu, serta memberikan penjelasan-penjelasan sesuai dengan tahap perkembangan pemikiran serta peserta didik sendirilah yang harus belajar.

Sedangkan filsafat anthropocentric lebih mendasarkan ajaran pada hasil pemikiran manusia dan berorientasi pada kemampuan manusia dalam hidup keduniawian. Dalam pendidikan Islam hidayah Allah menjadi sumber spiritual yang menjadi penentu keberhasilan akhir dari proses ikhtiyariah manusia dalam pendidikan.[[12]]

Fitrah manusia dan implikasinya dalam pendidikan dapat dijelaskan lebih lanjut dengan:

1)      Pemberian stimulus dan pendidikan demokratis

2)      Manusia ditinjau dari segi fisik-biologis mungkin boleh dikatakan sudah selesai, “Physically and biologically is finished”, tetapi dari segi rohani, spiritual dan moral memang belum selesai, “morally is unfinished”. Manusia tidak dapat dipandang sebagai makhluk yang reaktif, melainkan responsif, sehingga ia menjadi makhluk yang responsible (bertanggung jawab). Oleh karena itu pendidikan yang sebenarnya adalah pendidikan yang memberikan stimulus dan dilaksanakan secara demokratis.

3)      Kebijakan pendidikan perlu pertimbangan empiris. Dengan bantuan kajian psikologik, implikasi fitrah manusia dalam pendidikan islam dapat disimpulkan bahwa jasa pendidikan dapat diharapkan sejauh menyangkut development dan becoming sesuai dengan citra manusia menurut pandangan islam.

4)      Konsep fitrah dan aliran konvergensi. Dari satu sisi, aliran konvergensi dekat dengan konsep fitrah walaupun tidak sama karena perbedaan paradigmanya. Adapun kedekatannya:

  1. Islam menegaskan bahwa manusia mempunyai bakat-bakat bawaan atau keturunan, meskipun semua itu merupakan potensi yang mengandung berbagai kemungkinan,
  2. Karena masih merupakan potensi maka fitrah itu belum berarti bagi kehidupan manusia sebelum dikembangkan, didayagunakan dan diaktualisasikan.

Namun demikian, dalam Islam, faktor keturunan tidaklah merupakan suatu yang kaku sehingga tidak bisa dipengaruhi. Ia bahkan dapat dilenturkan dalam batas tertentu. Alat untuk melentur dan mengubahnya ialah lingkungan dengan segala anasirnya. Karenanya, lingkungan sekitar ialah aspek pendidikan yang penting. Ini berarti bahwa fitrah tidak berarti kosong atau bersih seperti teori tabula rasa tetapi merupakan pola dasar yang dilengkapi dengan berbagai sumber daya manusia yang potensia.

Walaupun berfikir dan bernalar diakui sebagai salah satu kemampuan dasar manusia, namun kemampuan untuk menemukan jalan kebenaran tidaklah mutlak tanpa petunjuk Ilahi, pikiran dan penalaran dalam perkembangannya memerlukan pengarahan dan latihan yang bersifat kependidikan yang sekaligus mengembangkan fungsi-fungsi kejiwaan lainnya dalam pola keseimbangan dan keserasian yang ideal.

Oleh karena itu pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada pengajaran. Dimana orientasinya hanya kepada intelektualisasi penalaran, tetapi lebih menekankan pada pendidikan dimana sasarannya adalah pembentukan kepribadian yang utuh dan bulat maka pendidikan Islam pada hakekatnya adalah menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas sesuai dengan firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an. Pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada pengajaran. Dimana orientasinya hanya kepada intelektualisasi penalaran, tetapi lebih menekankan pada pendidikan dimana sasarannya adalah pembentukan kepribadian yang utuh dan bulat maka pendidikan Islam pada hakekatnya adalah menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas sesuai dengan firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an

Dengan demikian proses pendidikan Islam demi mencapai tujuan yang total, menyeluruh dan meliputi segenap aspek kemampuan manusia diperlukan landasan falsafah pendidikan yang menjangkau pengembangan potensi kemanusiannya, falsafah pendidikan yang demikian itu bercorak menyeluruh dimana iman melandasarinya. Sehingga proses pendidikan yang berwatak keagamaan mampu mengarahkan kepada pembentukan manusia yang mukmin, atau dengan filsafat pendidikan Islam bisa memikirkan perkembangannya secara mendasar, sistematik, dan rasional yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits agar berkembang secara optimal dan bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Daftar pustaka

  1. Arifin, Muzzayyin. Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Bumi Aksara. 2003.
  2. Nata, abuddin. Filsafat pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama. 2005
  3. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta pusat: Kalam Mulia. 2010.

 


[1] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Gaya Media Pratama, 2005),h. 100

[2] Ibid, 80

[3] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:Gaya Media Pratama, 2005),h. 81

[4] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2003),h. 16

[5] Ibid, h. 18

[6] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta:Kalam Mulia, 2010)h 134

[7] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2003),h. 141

[8] Ibid, h. 143

[9] Al-Qur’an dan tafsirnya…h. 571

[10] Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991) h. 103

[11] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Remaja Rosdakrya, 2002) h. 19

[12] Muis Said Iman, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004) h. 27

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Juli 13, 2011 in Berbagi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: